Tampilkan postingan dengan label Financial Planning. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Financial Planning. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Desember 2011

Asuransi Jiwa? Pilih yang Mana ya?

 
Hi bro, kali ini aku dapet tugas lagi dari Mrs. Nevi. Tapi berbeda dengan blogku yang kemarin pake Bahasa Inggris dalam blogku kali ini aku pake Bahasa Indonesia saja karena keterbatasan waktu dimana aku mengerjakan blogku ini hampir mendekati deadline waktu yang diberikan Mrs. Nevi dan tentu saja hal ini tidak perlu pembaca contoh karena kurangnya penerapan time management dalam diriku, okey bro. Dan selanjutnya dalam blogku minggu ini aku akan membahas tentang Asuransi Jiwa yang terdiri dari Asuransi Jiwa Tradisional , Unit Linked dan Syariah dengan judul “Asuransi Jiwa? Pilih yang Mana ya?” Mau tau ada apa saja di dalamnya? Yuk kita baca blogku dibawah ini. Check it out bro.

Sebelum anda mengasuransikan jiwa anda ada baiknya anda mengenal, mengetahui dan memahami spesies-spesies dari asuransi jiwa. Berikut ini akan saya perkenalkan asuransi jiwa yang meliputi Asuransi Jiwa Tradisional, Asuransi Jiwa Unit Linked dan Asuransi Jiwa Syariah beserta manfaat dan karakteristiknya

Asuransi Jiwa Tradisional adalah asuransi yang sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu tepatnya di Inggris pada tahun 1706 dengan berdirinya The Amicable of London. Kemudian berkembang lagi pada tahun 1762 dengan pemikiran yang lebih maju. Di lanjutkan dengan exsodus besar-besaran warga Eropa ke Amerika pada tahun 1840 mulai lahir lembaga-lembaga asuransi jiwa seperti The New England Mutual Life Ins Comp dan The Mutual Life Insurance of New York. Dalam perkembangannya polis asuransi jiwa tradisional dapat dibedakan menjadi 2 yaitu polis dengan pembagian keuntungan dan polis tanpa keuntungan.

Polis dengan keuntungan atau biasa disebut par policy, yaitu dapat berpartisipasi dan mendapat keuntungan dari laba perusahaan asuransi yang berupa bonus ke dalam polis. Bonus ini dapat berupa bonus reversionary, bonus tunai, bonus pemotongan premi yang akan datang dan bonus jatuh tempo. Sedangkan polis tanpa keuntungan adalah kebalikan dari polis dengan keuntungan yaitu tidak dapat berpartisipasi dari laba perusahaan, polis ini juga di sebut non-participating policy dan polis ini merupakan polis yang lazim berlaku di Indonesia.

Ditinjau dari manajemen pemasaran, pengambilan keputusan pembelian dan manajemen risikonya, karakteristik polis asuransi jiwa tradisional dibedakan menjadi 2 yaitu polis asuransi jiwa individu dan polis asuransi jiwa kumpulan. Polis asuransi jiwa individu adalah polis yang ditujukan pada individu yang ditawarkan oleh agen dengan tingkat premi lebih tinggi dari asuransi jiwa kumpulan. Manfaat asuransi jiwa individu ada 4 yaitu term insurance, whole life, endowment dan kombinasi asuransi jiwa dasar.

Term Insurance memberikan proteksi jangka waktu tertentu misal 1 tahun sampai 20 tahun atau dibatasi sesuai usia tertanggung pada akhir suatu jangka waktu. Memberikan manfaat pembayaran jika meninggal dalam masa kontrak dan tidak ada pembayaran apapun jika tetap hidup sampai akhir masa kontrak. Premi termurah dibandingkan dengan polis jenis lain dan tidak mempunyai nilai tunai. Term insurance berguna untuk keperluan proteksi namun ada masalah dengan premi, bagi yang memiliki hipotik dan pinjaman lainnya dari ancaman meninggal dini, bagi individu yang hanya ingin diproteksi sebab memiliki kemampuan investasi, tambahan polis jenis lain dengan biaya lebih murah. Jenis-jenis term insurance antara lain uang pertanggungan tetap, uang pertanggungan menurun, uang pertanggungan meningkat, polis asuransi jiwa berjangka yang dapat diperbaharui, polis asuransi jiwa berjangka yang dapat dikonversikan.

Whole Life memberikan proteksi seumur hidup biasanya sampai usia 80 atau 99 tahun, tingkat premi tetap selama masa pembayaran premi dan mempunyai nilai tunai. Whole Life berguna untuk individu yang memiliki kebutuhan asuransi jangka panjang sebagai tabungan jangka panjang. Pembayaran premi ini terdiri dari 2 yaitu pembayaran terus dan pembayar`n terbatas.

Endowment memberikan pembayaran manfaat kepada tertanggung jika masih hidup di akhir masa asuransi atau meninggal sebelum masa asuransi berakhir. Tingkat premi tetap selama masa pembayaran namun lebih tinggi dari polis jenis lainnya dan memiliki nilai tunai dengan akumulasi nilainya lebih cepat. Endowment berguna untuk individu yang menginginkan proteksi sekaligus tabungan dalam bentuk investasi , karena polis ini mengutamakan tabungan atau investasi dan individu yang ingin mendapatkan uang pertanggungan pada tanggal yang telah ditentukan walaupun masih hidup.

Kombinasi jenis polis dasar memiliki tujuan agar polis asuransi dapat memenuhi kebutuhan khusus yang diperlukan oleh tertanggung. Polis ini bisa merupakan kombinasi dari berbagai jenis asuransi jiwa dasar seperti asuransi jiwa berjangka, seumur hidup dan dwiguna. Jenis kombinasi polis dasar antara lain polis asuransi jiwa dwiguna yang dikombinasikan, polis asuransi jiwa gabungan (berlaku untuk lebih dari 1 jiwa) dan polis asuransi jiwa anak-anak (dikeluarkan untuk anak yang berusia 1 hari sampai 16 tahun) untuk menyediakan dana pendidikan untuk anak, ada 3 variasi untuk polis jenis ini yaitu polis dwiguna & pilihan asuransi tambahan, polis dwiguna ditangguhkan dan polis dwiguna yang berdampak atas jiwa orang tua.

Polis asuransi jiwa kumpulan adalah asuransi untuk sekelompok orang dalam satu kontrak asuransi yang umumnya ditawarkan oleh staf marketing group insurance dan biasanya perusahaan yang membeli untuk proteksi para karyawannya. Asuransi ini umunya berbentuk asuransi jiwa berjangka, namun bisa juga berupa dwiguna, dana pensiun, anuitas yang ditangguhkan atau manfaat kesehatan dan rawat inap. Selain untuk sekelompok karyawan, bisa juga untuk kelompok yang tidak bekerja diperusahaan misalnya asosiasi dokter, klub sepakbola dan lain sebagainya.

Waduh sudah segini banyaknya masih bahas asuransi jiwa tradisional? Duh capeknya padahal masih ada 2 yaitu unit linked dan syariah. Pasti pembaca juga capek seperti saya. Istirahat dulu aja ya kalo capek, dan bisa dilanjutkan jika capeknya sudah hilang dengan pembahasan tentang asuransi jiwa unit linked.

Polis asuransi jiwa unit linked adalah polis asuransi jiwa individu yang memberikan manfaat proteksi asuransi jiwa dan juga kesempatan untuk berpartisipasi secara langsung dalam pengelolaan investasi yang nilai polisnya setiap saat bervariasi sesuai dengan nilai aset investasi tersebut. Polis ini dimulai tahun 1957 di Inggris dan berkembang dengan pesat diseluruh dunia termasuk di Indonesia pada tahun 1998. Nama lain dari unit linked adalah investment linked (Singapura dan Malaysia) dan variable life (USA). berdasarkan SK Menteri Keuangan 481/KMK.017/1999 pasal 11 ayat 1 mencatat bahwa unit-linked sebagai produk asuransi yang risiko investasi sepenuhnya ditanggung pemegang polis. Risiko investasi berdasarkan kebijakan investasi yang ada pada masing-masing polis unit linked misalnya pendapatan tetap atau saham.

Pada dasarnya karakteristik semua bentuk polis asuransi unit linked adalah sebagai berikut :
  1. Premi yang dibayarkan pemegang polis digunakan untuk membeli unit dana bersangkutan.
  2. Harga unit diumumkan secara berkala, misalnya di harian bisnis Indonesia.
  3. Metode I harga unit tunggal
  4. Metode II menggunakan 2 harga yaitu harga jual dan harga beli
  5. Premi setiap polis unit linked dipecah menjadi berbagai komponen dan semua biaya dikategorikan, seperti biaya polis, biaya awal, biaya mortalita, biaya investasi dan sebagainya.
  6. Elemen proteksi dapat berbentuk proteksi jiwa, cacat, proteksi kecelakaan atau asuransi kesehatan.
  7. Nilai tunai ditentukan oleh kinerja investasi dari asset yang bersangkutan dan bisa dilihat dari harga unit serta biasanya tidak digaransi.
  8. Pemegang polis umumnya bisa menambah dana ke dalam polisnya sesuai dengan jumlah minimum yang ditentukan.

Dana unit linked adalah sekumpulan dana yang dikontribusikan oleh pembeli program unit linked. Dana unit linked dikelola oleh manajer investasi atau ahli investasi perusahaan. Instrumen investasi dana unit linked antara lain adalah dana saham, dana pendapatan tetap, dana tunai, dana campuran dan dana reksadana. Dari segi pembayaran premi, polis unit linked dapat diklasifikasikan menjadi 2 yaitu polis unit linked premi tunggal dengan premi dibayarkan sekaligus serta fokus pada investasi dan polis unit linked premi berkala dengan premi dibayarkan berkala dalam jangka waktu tetap serta fokus pada proteksi. Manfaat memiliki polis unitlinked antara lain adalah potensi pertumbuhan hasil investasi yang tinggi, likuiditas, keahlian dan modal investasi dan keuntungan pajak.

Akhirnya tinggal 1 pembahasan lagi, pegal rasanya jari-jari ini dari tadi bermain-main dengan mouse dan keyboard. Dan inilah yang terakhir yaitu Asuransi Jiwa Syariah.

Asuransi Jiwa Syariah menganut sistem ekonomi islam yang di perkenalkan Rasulullah SAW yaitu al-mudharabah (bagi hasil keuntungan dan kerugian). Pada dekade tahun 70an menjadi tonggak kebangkitan Islam dimana orang Islam mempraktekkan syariat Islam dengan semboyan “Islam adalah jalan hidupku”. Dengan didasari hal tersebut, maka pada tahun 1979 di Sudan mulai berkembang Asuransi Syariah, yang kemudian diikuti oleh negara-negara Islam atau negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Di Indonesia asuransi syariah mulai berkembang pada beberapa tahun terakhir. Dipelopori oleh PT. Asuransi Takaful Indonesia yang berdiri pada tahun 1994 yang kemudian disusul oleh perusahaan lain melalui divisi syariahnya. Asuransi Syariah di Indonesia masih menjadikan Malaysia sebagai benchmarknya.  Namun perekembangan asuransi syariah di Indonesia masih tergolong lambat dibandingkan dengan  negara minoritas muslim seperti Luxemburg, Australia dan Inggris dimana asuransi syariah telah ada sejak tahun 1983.

Asuransi di dalam Bahasa Arab berarti at-ta’min yang berarti memberi perlindungan sedangkan menurut MUI asuransi syariah adalah usaha saling melindungi dan tolong menolong diantara sejumlah pihak melalui investasi dalam bentuk aset dan atau tabarru’ memberikan pola pengembalian untuk menghadapi risiko tertentu melalui akad yang sesuai dengan syariah. Prinsip Syariat Islam mempunyai tujuan ganda yaitu kepentingan spiritual dan kebaikan sosial. Ide dasar dari syariat Islam berkaitan dengan transaksi yang bersifat etis. Kontrak atau akad adalah ikatan untuk mengadakan hubungan yang sah antara beberapa pihak. Syarat agar suatu akad dianggap sah menurut islam adalah kelayakan secara hokum orang yang mengadakannya, kelayakan pokok masalah dan persetujuan merupakan inti sebuah akad.

Akad asuransi dianggap tidak sah menurut syariat Islam apabila jika tidak terbebas dari
  1. Gharar, yaitu factor ketidakpastian dalam kontrak asuransi.
  2. Maisir, adanya spekulasi, judi atau sifat untung-untungan yang muncul sebagai konsekuensi.
  3. Riba, praktek pengayaan diri dengan cara yang tidak benar.
  4. Haram, transaksi harus bebas dari adanya investasi dalam komoditi yang dilarang agama Islam.
  5. Bathil, transaksi harus bebas dari perbuatan ilegal, kecurangan dan penipuan.

Asuransi jiwa syariah dilatarbelakangi oleh kebutuhan produk yang mengacu pada pandangan sebagian besar ulama dan pakar ekonomi Islam bahwa kontrak asuransi jiwa modern tidak sesuai dengan prinsip syariat Islam atau mengandung hal-hal yang diharamkan dalam hukum Islam. Asuransi jiwa syariah dapat menjadi pilihan bagi pemeluk agama Islam yang menginginkan produk yang sesuai dengan syariat Islam, bahkan juga dapat menjadi pilihan bagi pemeluk agama lain yang memandang konsep syariat adil bagi mereka. Syariah adalah sebuah prinsip atau sistem yang bersifat universal yang manfaatnya bisa digunakan oleh siapa saja yang berminat.

Sudah paham kan bagaimana dan apa saja asuransi jiwa itu? Asuransi jiwa mana yang akan anda pilih? Tentu saja itu tergantung dari pilihan diri anda masing-masing. Ada baiknya sebelum anda berasuransi niatkanlah asuransi itu untuk investasi dan mengelola risiko anda. Demikian blog saya semoga bermanfaat bagi pembaca sekalian. Wassalam . . .

Resources :
Modul 3 Bab 5 leading to registered financial planning Indonesia.
sell.stie-mce.ac.id
agenasuransiku.blogspot.com
bisnis-jabar.com
bukalapak.com
jocijempol.blogspot.com
perlindungan-keluarga.blogspot.com

Minggu, 27 November 2011

The Steps of The Risk Management Process

This week I received an assigment from the teacher of financial planning to write a blog about risk management. Such as the task of creating a blog before, I was very happy to have the task of this blog, this is easy, not difficult. But there was something different in my blog task this week. This week I'll write a blog with the English. This first time I write a blog with the English. With a feeling of pounding and heartbeat faster, I just can say BISMILLAH yes I can do this task. and this is my blog about risk management is described in the steps of the risk management process. Check it out brother....

Risk management in theory can be viewed as the study of methods for controlling portfolio risk. A variety of risk management tools are available to modify household risk. Perhaps the biggest difficulty in doing so is the lack of a full hedge for the lifetime work-related income streams we call human assets. We cannot fully diversify human assets. There are usually only one or two wage earners who make up human assets possible per household.

Risk is the probability of an outcome different from the one expected. Outcomes above and below expectations are considered risky. In practice, we have a different definition. Therefore, we can view risk in practice as the probability of a loss or an outcome that is below expectations. Risk management in practical terms can be defined as the process by which we identify risk and control them so that we are able to achieve individual goals.

Risk management is an organized process that looks at practices in broad terms and works its way to the most specific details. The six steps of this process are :

1. Develop Objectives
Objectives determine the scope of the risk management process. Do you want to select one area or examine all household risks?

2. Establish Exposures
Each area of household assets has its own risks. We can separate them into financial and nonfinancial assets. Nonfinancial assets may, in turn, be segregated into human-related assets and real assets. For risk management purposes, we can call human-related and real assets exposures personal and property risks, respectively. A risk that we are concerned about for planning purposes is one that can significantly affect assets or cash flows.

3. Identify Available Risk Management Tools
There are many techniques available to managing the overall risk of the household. Some of them have little or no cost. Common risk management approaches are:
    • Avoid Risk, under the avoid risk method, you seek to eliminate to risk. If there is risk that you will be injured if you cross the street on a red light, you may wait until the light is green.
    • Reduce Risk, when you reduce risk, it is not eliminated; it is lessned. When you exercise and eat the right foods, you reduce the risk of becoming ill.
    • Reduce Potential loss, when you reduce potential loss, you lessen the damage should a loss occur. Wearing a seat belt serves this function in the event an accident takes place.
    • Retain Risk, you retain risk when you reject the possibility of reducing or eliminating risk but instead decide to absorb the potential loss yourself.
    • Diversify, assets are diversified so that the impact of an unfavorable outcome for any one asset is reduced. You diversify when you allocate your marketable assets to many different categories. When you get married and both you and your spouse work, you are diversifying assets.
    • Transfer Risk, example of transferring risk is when you purchase a homeowner’s policy that insures against the loss of your home being destroyed by a fire. You have transferred your risk to the insurance company.
    • Sharing Risk, The transfer of risk is not always a full one. Example when you coinsure medical policies, sometimes 20% of the risk is retained. When you transfer some risk and retain a part of it, we call that sharing risk.
    • Other Methods of Handling Risk, There are a host of other methods to aid in altering risk. Many are utilizied principally for marketable securities and in businesses. They include options, futures, and swaps.
4. Match Appropriate Risk Management Tools to ExposuresDifferent exposures call for separate risk management tools. In determining the appropriate overall risk management tool, a number of factors should be taken into account. Among them are the cost of alternative risk management techniques, the amount and likelihood of loss. Any convenience factors, and the risk tolerance of the person. Let’s look at the exposures by category and describe the risk management tools.
    • Human-Related Assets are generally the most significant portion of a household’s portfolio for a large portion of its life cycle. The portfolio incorporates human-assets, pension assets including social security, and gifts and bequests. The risk include the following :
Longevity-premature death, longevity is the number of years you will live. Longevity risk is the possibility of living beyond normal expectations or dying prematurely. If a person dies prematurely, the other members of the household may undergo a decline in, or elimination of, income.


Longevity-extended life, the result of a good longevity program may be living an extra-long life. An extra-long live can result in a decline in your standard of living or running out of private funds. Establishing extra funds for the possibility of an extended life, a form of precautionary savings, will help.


Health and disability are expenses for sickness and inability to perform at your job. This, of course, can reduce your income and therefore human-asset value. Diet, exercise, and stess management can help here, as can safety measures to prevent illness and becoming disabled.


Macro and micro economic risks, macroeconomic risk is the risk inherent in the general economy, and microeconomic risk is the risk associated with the individual industry or company. Each can cause you to suffer for inflation, thereby causing declines in you’re your real income. General economic, industry or company related risks such as sluggish growth, overcapacity, technological obsolescence, or inefficient operations can result in layoffs or terminations.
    • Real Assets are tangible assets that the household owns. The most important one for nonrenters is the house they live in. other items are automobiles, furnishings and jewelry. Among other risks, the house is subject to fire, flood, termites, and accidents to people.
    • Financial assets involve the ownership of assets that are typified by pieces of paper and are often marketable. Examples are stocks and bonds. Risk such as industry or company risk in investing can be covered by diversification strategies.
    • Financial liabilities are monies owed to others, as, for example, debt. Having significant debt increases household risk. When negative events reduce cash flow individuals can become vulnerable. Reducing debt, placing caps on rates borrowed when they are available, and accumulating precautionary savings can serve to reduce this risk.
    • Intangible Liabilities are less quantifiable current liabilities such as potential liabilities to third parties. Care of personal property, such as shoveling your sidewalk after a snowstorm, and safety precautions also can be employed
5. Implement
Implementation is taking the action step. Sometimes people have difficulty implementing a risk management strategy. Setting an implementation plan with specific dates to accomplish tasks can help.

6. Review
Risk management exposures can change. For example, a policy for household possessions may become insufficient over time because of inflation and new acquisitions. It is a good idea to review exposures at leasts once a year.

That is a brief explanation of the steps of the risk management process. hopefully useful for those of you who read this blog. Finally, I just can say ALHAMDULILLAH I can finish this blog and thank you very much... wassalamualaikum

resources : Personal Financial Planning, Lewis J. Altfest, McGrawHill 8th ed. (LA)
Picture : me123chan.wordpress.com

Senin, 17 Oktober 2011

MENGENAL INVESTASI DAN PRINSIP-PRINSIPNYA

Minggu lalu saya membuka edmodo kelas financial planning Mrs. Nevi dan disitu tertera tugas  minggu ke 5 dengan syarat2nya yaitu menulis artikel diblog dengan topik investment principles, the blog at least has 400 words and make sure no plagiarism. Saya tersenyum kecil dan bertanya2 ketika membaca syarat yang terakhir, no plagiarism? What mean? Kalau sama dengan teman sekelas? jelas tidak mungkin Mrs Nevi akan tahu dan saya tidak akan mendapat nilai dari Mrs. Nevi(damn). Kalau sama dengan artikel lain? Ah, Mungkin saja lagian di era sekarang kita tinggal mencari di internet semuanya gampang tinggal copas, tapi kira2 Mrs. Nevi tau gag ya? Kalau gag tau syukur kalau tau ya alamat gag dapet nilai lagi(damn).

Tapi kalau menulis tanpa sumber2 yang jelas tentu saja tidak bisa apalagi ini menulis tentang keilmuan yaitu ilmu keuangan dan mungkin saya akan dimarahi dan dimintai pertanggung jawaban oleh pembaca blog ini jika tulisan2 saya ngawur tanpa sumber2 yang jelas. Oleh karena itu sebelum saya menulis blog ini saya ingin meminta ijin kepada Mrs. Nevi bahwa blog ini tidak 101% hasil karya saya dan tidak 101% hasil jiplak (plagiat) tapi saya susun berdasar sumber2 yang ada baik dari buku maupun internet. demikian sedikit cerita curahan hati saya ketika akan menulis blog ini untuk selanjutnya saya persembahkan hasil karya saya tentang investasi. Check it out bro . . .

Ada peribahasa kuno yang mengatakan tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak kenal. Oleh karena itu bagi anda yang ingin berinvestasi dan belum mengenal apa itu yang namanya investasi maka anda lebih baik berkenalan dulu dengan investasi. Dimana anda bisa berkenalan dengan investasi? Jawabannya ya dimana2 anda bisa mengenal yang namanya investasi termasuk di blog ini. Berikut ini saya akan mengulas yang namanya investasi melalui artikel yang saya beri judul “mengenal investasi dan prinsip2nya”. Bagi yang belum berkenalan dengan investasi yuk kita berkenalan dengan si investasi di blog ini.

Investasi bisa kita temukan dalam ilmu ekonomi dan ilmu keuangan. Definisi investasi secara ekonomi bisa diartikan sebagai suatu aktiva yang tidak digunakan pada masa sekarang tapi digunakan pada masa yang akan datang dengan tujuan untuk mendapat keuntungan, atau bisa dikatakan investasi adalah tabungan untuk masa depan. Seseorang yang melakukan investasi atau yang berinvestasi disebut investor. Dalam kaitannya dengan perencanaan keuangan, investasi sangat penting karena investasi sangat erat kaitannya dengan perencanaan masa depan baik jangka pendek maupun jangka panjang. Nah, karena investasi berhubungan dengan masa depan yang tidak menentu, yang tidak bisa kita ramal dan yang pasti tidak kita ketahui maka pasti ada risiko2 di dalamnya.

Ada 2 risiko utama dalam berinvestasi yaitu risiko sistematik dan non sistematik. Risiko sistematik meliputi :
  • Risiko pasar, terjadi jika pasar investasi menyimpang dari siklusnya yang dipengaruhi faktor politik, faktor ekonomi regional, nasional maupun global dll.
  • Risiko suku bunga, disebabkan fluktuasi tingkat suku bunga yang dipengaruhi tingkat batasan suku bunga, kebijakan pajak dan keuangan dll.
  • Risiko tarif reinvestasi, terjadinya penurunan tingkat suku bunga di pasar.
  • Risiko daya beli/inflasi, disebabkan oleh inflasi
  • Risiko mata uang, dipengaruhi fluktuasi dari 2 atau lebih mata uang.
Risiko non sistematik meliputi :
  • Risiko bisnis, berhubungan dengan kemampuan peruasahaan dalam beroperasi.
  • Risiko keuangan, berhubungan dengan laporan neraca keuangan perusahaan
  • Risiko cidera janji, disebabkan ketidakmampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya (membayar hutang).
  • Risiko liquiditas, disebabkan ketidakpastian dalam sebuah investasi yang ada.
Perbedaan dari kedua macam risiko utama diatas adalah pada diversifikasi dimana risiko sistematik adalah risiko yang tidak bisa didiversifikasi sedangkan risiko non sistematik adalah risiko yang bisa didiversifikasi.

Setelah kita mengenal risiko2 dalam berinvestasi langkah selanjutnya dari seorang investor adalah mengenal tingkatan/faktor toleransi risiko dalam berinvestasi. Setiap investor pasti memiliki pemikiran yang mempengaruhinya dalam mengambil keputusan untuk berinvestasi. Tingkatan toleransi risiko yang bisa diterima oleh para investor ditentukan oleh banyak faktor yang diantaranya adalah tujuan spesifik, jangka waktu, pengetahuan tentang investasi, kepribadian, kondisi pasar terkini, kondisi keuangan terkini, faktor umur dan pendapatan atas investasi. Faktor2 toleransi risiko tersebut perlu diperhatikan oleh para investor sebelum berinvestasi misalnya jika seorang investor telah menguasai dengan baik pengetahuan tentang investasi akan memberikan tingkat toleransi yang lebih tinggi untuk investor tersebut.

Faktor2 diatas (risiko dan toleransi risiko) sangat mempengaruhi seorang investor dalam pengambilan keputusan. Tentu saja seorang investor tidak mau mengambil risiko dalam mengambil keputusannya atau malah seorang investor berani mengambil risiko. Berikut ini adalah beberapa macam tipe investor
  • Defensive, Investor ini berusaha untuk mendapatkan keuntungan dan menghindari resiko sekecil apapun dari investasi yang dilakukan.
  • Conservative, Investor ini berinvestasi untuk meningkatkan kualitas hidup keluarga dan dengan rentang waktu investasi yang cukup panjang, misalnya, untuk pendidikan perguruan tinggi anak atau biaya hidup di hari tua.
  • Balanced, Investor tipe ini selalu mencari proporsi yang seimbang antara resiko yang dimungkinkan terjadi dengan pendapatan yang dapat diraih.
  • Moderately aggressive, merupakan tipe investor yang tenang atau tidak ekstrim dalam menghadapi resiko. Investor ini cenderung memikirkan kemungkinan terjadinya resiko dan kemungkinan bisa mendapatkan keuntungan.
  • Aggressive, Investor tipe ini berinvestasi dengan rentang waktu relatif pendek karena mengharapkan adanya keuntungan yang besar dalam waktu singkat. Walaupun tidak berharap untuk merugi, namun investor aggressive menyadari bahwa kerugian adalah bagian dari permainan.
Termasuk tipe investor manakah anda? Kalau saya? Rahasia donk hehe . . .

Next tentang jenis2 investasi. Kurang lengkap rasanya kalau belajar investasi tanpa adanya jenis2 investasi seperti sayur tanpa garam. Ada beberapa macam jenis investasi yang bisa dipertimbangkan oleh investor antara lain :
  • Tabungan di bank, Dengan menyimpan uang di tabungan, maka akan mendapatkan suku bunga tertentu yang besarnya mengikuti kebijakan bank bersangkutan.
  • Deposito di bank, Suku bunga deposito biasanya lebih tinggi daripada suku bunga tabungan. Selama deposito kita belum jatuh tempo, uang tersebut tidak akan terpengaruh pada naik turunnya suku bunga di bank.
  • Saham, Dengan membeli saham, berarti membeli sebagian sebuah perusahaan. Apabila perusahaan tersebut mengalami keuntungan, maka pemegang saham biasanya akan mendapatkan sebagian keuntungan yang disebut deviden.
  • Properti, Investasi dalam properti berarti investasi dalam bentuk tanah atau rumah.
  • Barang-barang koleksi, Keuntungan yang didapat dari berinvestasi pada barang-barang koleksi adalah dengan menjual koleksi tersebut kepada pihak lain.
  • Emas, Emas adalah barang berharga yang paling diterima di seluruh dunia. Selain itu harga emas biasanya juga berbanding searah dengan inflasi. Semakin tinggi inflasi, biasanya akan semakin tinggi pula kenaikan harga emas. Seringkali kenaikan harga emas melampaui kenaikan inflasi itu sendiri.
  • Mata uang asing Segala macam mata uang asing biasanya dapat dijadikan alat investasi. Investasi dalam mata uang asing lebih beresiko dibandingkan dengan investasi dalam saham, karena nilai mata uang rupiah sangat fluktuatif.
  • Obligasi, adalah surat utang yang diterbitkan oleh pemerintah maupun perusahaan, baik untuk menambah modal perusahaan atau membiayai suatu proyek pemerintah.
Banyak hal yang perlu dipelajari investor untuk mengambil keputusan dalam memilih jenis investasi diatas dengan mempertimbangkan risiko2, faktor toleransi dll.

Tentu saja dalam berinvestasi pasti ada keuntungan dan kerugiannya. dan yang diinginkan dari seorang investor adalah hasil investasi atau investment return yang menguntungkan. Hasil investasi ini bisa berupa peningkatan modal, pendapatan atau malah kedua2nya.

Sudah mengenalkan yang namanya investasi. termasuk dalam tipe investor yang manakah anda? Dan jenis investasi apa yang anda pilih? Tentu jawabannya pada diri anda sendiri. Sekian dulu dari saya, apabila ada saran dan kritik demi kemajuan blog ini silahkan disampaikan. Monggo . . .